Merespon krisis keuangan global, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan bersama 4 menteri. Dalam pertimbangan, peraturan tersebut dikeluarkan untuk memelihara pertumbuhan perekonomian nasional. Sebagai upaya memelihara pertumbuhan perekonomian, langkah tersebut patut diacungi jempol. Pemerintah telah bertindak responsif dalam menyikapi persoalan-persoalan nasional dan global. Namun yang menjadi masalah, peraturan tersebut menanggungkan beban kepada pihak pekerja/buruh. Upah pekerja/buruh harus disesuaikan dengan “selera” pemerintah dan perusahaan agar pertumbuhan ekonomi nasional terjaga. Disebutkan dalam peraturan bahwa penetapan upah diarahkan dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan perusahaan. Read more…
“Selalu banyak pelajaran di manapun, maka temukanlah”. Ini adalah sebuah “pelajaran” yang saya dapat dari rapat tahunan organisasi kampus yang sampai hari ini saya masih melibatkan diri di dalamnya. Seperti ritual-ritual sebelumnya, rapat tahunan diakhiri dengan pemilihan ketua umum. Pemilihan ketua seperti biasanya pula diawali dengan pernyataan kesediaan dari masing-masing calon. Saat itu ada 4 calon. Semua menyatakan ketidaksediaannya di depan forum. Alasan-alasan yang disampaikan beragam. Satu di antaranya adalah yang membuat saya menemukan pelajaran. Read more…
Dalam Cultural Studies, anak muda menjadi subyek sentral kajian. Mengapa demikian? karena anak muda adalah ladang subur bagi terjadinya transformasi budaya. Setidaknya itu poin penting yang bisa ditangkap dari materi yang disampaikan oleh Mas Kirik Ertanto dalam Pelatihan Etnografi PUSPeK Averroes September lalu. Tulisan ini adalah review ketiga dari pelatihan tersebut. Judul yang saya buat dalam tulisan ini adalah kreasi sendiri, bukan judul materi pelatihan. Materi ini seharusnya menjadi review pertama karena merupakan pengantar Cultural Studies. Tetapi….ya…ini soal tertarik dan tidak saja. Ha ha ha. Read more…
Tulisan ini adalah review kedua dari pelatihan etnografi PUSPeK Averroes pada bulan puasa lalu. Cultural Resistance (CR) pada saat itu disampaikan secara eksklusif oleh kawan Mujtaba Hamdi (Taba). Bagi kita, peserta pelatihan, CR merupakan tema yang masih asing. Asing karena tidak pernah dibaca atau dipikirkan. Ya….begitulah. Terlalu banyak hal-hal asing di sekitar kita karena problem kurang membaca, melupakan apa yang diperintahkan Tuhan pada surat yang diturunkan pertama kali. Marilah kita membaca, kawan. Membaca apapun agar tidak mudah shock karena keasingan banyak hal. Ha ha ha. Read more…
Tulisan ini adalah review diskusi dengan seorang teman yang humoris dan gaul meski jarak usia sangat jauh. Diskusi ini bukan diskusi yang direncanakan sebelumnya. Ya….seperti orang pada umumnya, kalau sedang mengalami sesuatu, maka pembicaraan-pembicaraannya dengan siapa saja diarahkan ke tema sesuatu tersebut. Kali ini tentang jodoh. Kebetulan pula semalam sebelumnya saya dan teman sekamar sempat terlibat dalam pembicaraan tentang jodoh. Kami bertiga waktu itu tidak memiliki jawaban yang boleh dianggap bisa dipegang. Kami hanya berbicara mungkin ini dan mungkin itu. Itu pula yang lalu membuat saya banyak bertanya tentang jodoh pada seorang teman yang dimaksud. Read more…
Tulisan ini merupakan sedikit review dari pelatihan cultural studies (etnografi di dalamnya) yang sempat saya ikuti pada tanggal 19-23 September lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes ini didesain dengan Sersan (Serius tapi Santai). Serius karena narasumber yang memandu adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di tingkat nasional, yaitu Mas Kirik Ertanto (Save Children) dan Mujtaba Hamdi (Peneliti Tankinaya, Jakarta), tapi santai karena model forumnya memang santai. Tidak ada kontrak forum, kalau capek bisa sambil tiduran, dan gratis (he he. Ini dia yang paling membuat santai). Read more…
Hari ini (Rabu, 17 September 2008), tepat di hari ke-17 bulan Romadlon, saya melihat sebuah “fenomena” baru tetapi “menyedihkan”. Pada saat itu saya hendak keluar untuk membeli sesuatu. Di pintu sayup-sayup saya mendengar orang mengucapkan salam dengan keras di depan rumah tetangga saya. Tidak biasanya hal itu terjadi di perumahan di daerah saya tinggal dan tentu di perumahan-perumahan lain. Yang saya lihat adalah 5 orang ibu yang menggendong anak masing-masing, kecuali satu ibu yang tidak membawa anak. Mereka berjalan dan mengucapkan salam dari rumah satu ke rumah lain dengan nada tinggi. Read more…
Oleh Any Rufaidah
Irshad Manji adalah Muslimah kelahiran Uganda yang hidup di tengah “tradisi” kekerasan dan perbudakan. Di usia empat tahun, ia dibawa berimigrasi ke Kanada. Imigrasi adalah satu-satunya pilihan ribuan warga Uganda sebagai konsekuensi kediktatoran Idi Amin Dada untuk membersihkan warga selain kulit hitam. Tidak ada pilihan bagi kulit berwarna untuk tinggal kecuali dengan mengorbankan nyawa. Kediktatoran Amin Dada beberapa generasi berikutnya benar telah usai, tetapi kekerasan dan perbudakan tidak beringsut sedikit pun. Hanya perbedaan objek saja. Kali ini adalah terhadap orang-orang berkulit hitam. Read more…
Mengapa ada perceraian? Bahkan kadangkala perceraian diperlukan.
Ada banyak jawaban psikologi yang menjawab hal itu. Kita pun melihat sendiri banyaknya alasan-alasan yang tampak. Perselingkuhan, ketidakcocokan, dan lain-lain. Pertanyaan itu tiba-tiba menjadi pertanyaan saya beberapa hari lalu. Kenapa ya? Ah…saya pikir itu adalah karena kompleksitas manusia. Manusia adalah makhluk yang terus menjadi, dinamis, dan tidak pernah fix. Proses perkenalan sebelum pernikahan sering tidak cukup untuk mengenal seorang manusia. Hanya orang-orang yang mampu berkompromi dengan keberjadian, dinamisasi, dan unfixed manusia lah yang akan bertahan. Tetapi apakah dengan bercerai berarti tidak demikian?
Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa Read more…
