Tulisan ini merupakan sedikit review dari pelatihan cultural studies (etnografi di dalamnya) yang sempat saya ikuti pada tanggal 19-23 September lalu. Pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) Averroes ini didesain dengan Sersan (Serius tapi Santai). Serius karena narasumber yang memandu adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di tingkat nasional, yaitu Mas Kirik Ertanto (Save Children) dan Mujtaba Hamdi (Peneliti Tankinaya, Jakarta), tapi santai karena model forumnya memang santai. Tidak ada kontrak forum, kalau capek bisa sambil tiduran, dan gratis (he he. Ini dia yang paling membuat santai).OK, back to theme.
Cultural studies bagi saya (dan teman-teman pelatihan juga saya pikir) merupakan sesuatu yang baru. Meskipun sudah sering mendengarnya, pengetahuan yang saya ketahui masih sangat minim. Apa itu cultural studies masih menjadi pertanyaan besar bagi saya. Dan, pada pelatihan ini saya sedikit mendapat pencerahan tentang pertanyaan tersebut tanpa harus membaca berbagai buku tebal seperti milik Chris Barker (he he)
Yang saya tangkap dari penjelasan Mas Kirik tentang CS adalah:
1. Bahwa CS merupakan reaksi terhadap dominasi yang menganggap bahwa kesadaran setiap orang di muka bumi ini seragam, mengikuti satu alur, dan bisa dikendalikan. Ibaratnya seperti yang dikatakan Nietzsche, manusia seperti kawanan domba. Digiring ke sana ikut ke sana dan digiring ke sini juga ikut saja. CS ingin menjelaskan bahwa kelas bawah memiliki ideologi yang tidak mesti sama dengan persepsi dominasi. Mereka memiliki pemaknaan sendiri tentang apa yang mereka lakukan dan kerjakan, tentang penampilan, arti pertemanan, pandangan hidup, dan lain sebagainya. Tidak seperti pandangan dominasi yang menganggap bahwa hidup adalah begini dan begitu, di luar itu adalah abnormal. Pada anak jalanan misalnya, mereka memiliki pemaknaan-pemaknaan sendiri tentang apapun yang melekat pada diri mereka, berbeda dengan apa yang dipersepsi oleh dominasi yang menganggap mereka tidak memiliki aturan, tidak bermoral, banyak tingkah, dan lain sebagainya.
2. CS sekaligus ingin menegaskan bahwa ideologi tidak pernah bersifat total.
3. CS adalah perayaan atas keberagaman.
Itulah sedikit hal yang saya tangkap mengenai CS, selebihnya, belajar dulu….
(AR, Bwi, 1 Okt. ’08. 22.16)
Tags: cultural studies, etnografi

October 7th, 2008 at 7:31 am
Nitse nya kurang s kali