Hari ini (Rabu, 17 September 2008), tepat di hari ke-17 bulan Romadlon, saya melihat sebuah “fenomena” baru tetapi “menyedihkan”. Pada saat itu saya hendak keluar untuk membeli sesuatu. Di pintu sayup-sayup saya mendengar orang mengucapkan salam dengan keras di depan rumah tetangga saya. Tidak biasanya hal itu terjadi di perumahan di daerah saya tinggal dan tentu di perumahan-perumahan lain. Yang saya lihat adalah 5 orang ibu yang menggendong anak masing-masing, kecuali satu ibu yang tidak membawa anak. Mereka berjalan dan mengucapkan salam dari rumah satu ke rumah lain dengan nada tinggi.Tentu saja saya agak “heran” karena “pemandangan” seperti itu tidak saya temukan sebelumnya. Semakin banyaknya jumlah pengemis atau Gepeng memang terjadi dan menjadi berita yang sangat ramai setiap Romadlon, tetapi yang berkelompok seperti yang saya lihat rasanya tidak ada. Cerminan apa ini? Saya melihat ini adalah strategi baru para Gepeng untuk mendapatkan simpati dari orang-orang yang dalam pandangan mereka lebih beruntung. Apa tujuannya, tentu saya tidak tahu (karena tidak mewawancarainya. He he).
Apa yang saya pikirkan tidak nyambung dengan “fenomena” di atas. Yang jelas saya melihat bahwa ini adalah cermin peningkatan kemiskinan yang sangat hebat mendera negeri Indonesia tercinta ini, sehingga strategi-strategi baru perlu dilancarkan oleh Gepeng. Dalam skala yang lebih besar adalah tewasnya 21 orang di Pasuruan karena berebut zakat sebesar 30 ribu rupiah. Sisi lainnya lagi, saya melihat hal tersebut adalah cermin ketegangan terhadap kultur hari raya yang dimaknai dengan sesuatu yang serba baru. Baju baru, sepatu baru, cat rumah baru, dan lain-lain yang serba baru (kalau perlu juga pasangan baru. He he). Hari raya begitu dimaknai dengan sesuatu yang “mewah” sehingga orang merasa cemas (anxiety) jika tidak mampu menampilkan kemewahan tersebut. Saya teringat kata ibu saya waktu saya masih kecil, bahwa jika melihat anaknya tidak memakai baju baru pada saat lebaran, rasanya nelongso.
Tentu saja itu benar, dan saya yakini rasa itu benar. Tetapi mengapa rasa itu harus muncul, itu yang saya anggap tidak bisa dibenarkan begitu saja. It’s about awareness. It’s all.
Catatan : Jika ada yang cemas karena tidak mampu membeli baju baru dan lain-lain, sementara diri tidak memiliki penjelasan memadai tentang keadaan, dan harapan atas THR sudah pupus, sebaiknya tidak pulang saja ke kampung halaman. Gitu aja kok repot. Tetapi jika mampu, it’s no matter. Berdamailah dengan hati dan hormatilah kenyataan.
(AR-A, 17 Sept. ’08. 21.40)

September 20th, 2008 at 4:04 pm
SUJUD
manakala hati dilanda resah
manakala jiwa di sudut galau
manakala susah mendera
manakala jemu terasa
penyejuk itu hanya iman..
mata terkatup dalam sujud
mata terpejam mengucap doa
hati meratap karena dosa
aku berdiri dengan basmallah
aku bersujud dengan tasbih
dan salam terakhir sebagai hidayah
sampai aku menutup mata
2008
(Antologi Mahabah Eko Prasetyo)
PS: Jaga shalat dan tetap cantik..