Malam ini agak tidak menarik bagi saya. Sebuah pertemuan menambah ketidakmenarikan itu. Saya tidak suka itu, pertama karena jadwalnya tidak sesuai, kedua, pertemuan itu cukup ”mengganggu”. Tetapi mengganggu yang saya maksud di sini bukan berarti jelek. Tetap ada manfaatnya. ”Mengganggu” karena pengetahuan yang saya dapat darinya sedikit menggoncang keputusan. Manfaatnya karena saya memperoleh banyak pengetahuan dari situ.Suasana memusingkan malam itu. Di depan komputer saya masih pusing pula. Apalagi koneksi internet tidak bisa. Tidur juga belum menjadi pilihan yang menari. Nonton film saya anggap tindakan terbaik. Akan ada pesan-pesan yang bisa diambil. Selera menonton pun masih cukup baik. Tidak ada film baru yang terdaftar di file-file. Tapi apa boleh buat. Saya putuskan memutar salah satu. Film yang sudah pernah saya tonton. Judulnya No Reservations. Pemeran utama Catherine Zeta-Jones. Perempuan yang sangat menarik dalam definisi kecantikan modern.
Saya ingat alur film. Tapi detail-detailnya tidak. Berputar lah fim itu. Beberapa saat musik latar film itu berbunyi. Menarik sekali. Saya ingat kala pertama kali mendengarnya juga sudah tertarik. Musik itu cukup menyentuh. Nada-nadanya ringan, smooth, enak di telinga. Meski berulang kali berputar, musik itu tetap enak didengar. Musik itu juga cukup membantu saya mendapatkan kembali kenyamanan. Ya kawan. Sering sekali hal-hal kecil bisa membantu kita. Oleh karena itu, kita (saya) sebaiknya tidak meremehkan hal-hal kecil sekalipun. Saya berpikir waktu itu bahwa kita semua patut berterima kasih pada penata lagu, pembuat film, dan lain sebagainya. Hal-hal kecil yang mereka buat tanpa disadari sering sekali membantu dan berpengaruh pada hidup.
No Reservations bercerita tentang seorang koki yang sangat potensial. Namanya terkenal di kotanya. Tapi ada sisi lain yang menarik dari sekedar sisi itu. Kate, nama panggilan C. Zeta-Jones menjalani hidupnya dengan sangat ketat. Dia sosok perfeksionis. Dalam pekerjaan dan dalam keseharian. Segala sesuatu dia kerjakan dengan rapi dan ketat. Karena itu dia hampir tidak mentolerir apapun kesalahan anak buahnya. Hidupnya dijalani dengan serius, minim tertawa, apalagi pada saat bekerja. Pola itu sampai membuat keponakannya terheran-heran dan merasa aneh. Teman kerjanya pun ketakutan melihatnya. Saya bisa merasakan cara hidup seperti itu. Penuh stress. Wajar saja Kate direkomendasi bosnya untuk menjalani terapi pada seorang psikolog. Saat kerja sering masuk ruang pendingin bahan makanan.
Tokoh lain adalah Nick. Profesi Nick koki pula. Dia berbakat, pengalaman sebagai koki pun telah lama dia jalani. Cara hidup Nick berbeda sama sekali dengan Kate. Nick senang tertawa, riang, menjalani hidup dengan sersan (serius tapi santai). Sambil memasak dia bisa sambil mendengarkan musik, bergoyang, dan yang terpenting membuat rekan-rekannya riang.
Dua orang yang menjalani hidup berbeda, tetapi kesuksesan yang mereka raih sama. Sebagai koki berbakat yang dikagumi banyak pelanggan dan mudah mendapatkan pekerjaan. Melihat itu, saya jadi teringat pada kata-kata ayah yang baru saya tulis belum lama sebelumnya. ”Orang yang belum bisa menata hati, bisa saja meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya. Tetapi tetap ada sisi lain yang membedakannya dengan orang yang sudah bisa menata hati”. Yang saya tangkap adalah dalam hal kenyamanan hidup.
Di samping itu, saya menangkap beberapa dialog yang cukup memberi kesan dalam film itu. 1. Membuka diri itu tidak berbahaya (Nick). Di sini mengandung pesan untuk meluluhkan ego. Dalam hal ini adalah membuka diri kepada orang lain. Ini sangat bisa diterima. Untuk membuka diri seringkali butuh kepercayaan, persepsi positif terhadap orang lain, dan nilai-nilai pertemanan lainnya. Tanpa itu, jadinya adalah menutup diri. Kurang lebih jadinya seperti Kate, anak buahnya cenderung takut padanya.
2. Di akhir serial, Kate berkata, ”Andai ada buku resep untuk hidup. Dengan resep tentang cara-cara menjalaninya” pada psikolognya. Si psikolog menjawab, ”Resep ciptaanmu sendirilah yang terbaik”. Dialog kedua ini cukup menyentuh. Pesannya kurang lebih, ”Find your self”. Ha ha. Saya jadi teringat pada seorang teman. Pesan tambahannya, ”Jika kau seorang periang, terimalah dirimu sebagai periang. Kau bisa sukses dengan keriangan itu. Begitu pula jika dirimu adalah seorang penangis. Terimalah dirimu sebagai penangis. Kau bisa sukses dengan seringnya menangis. Itu karunia Tuhan. Di dalam masing-masing ada energi. Yang tidak benar adalah jika kau tidak bisa menerima dirimu sendiri”. Saya jadi ingat pada seorang teman yang pernah mengatakan, ”Kau, Ani, meski kau pendiam kau juga bisa sukses. Tidak hanya orang seperti dia yang energetik yang bisa sukses. Kita semua bisa”. Ah mengingat perkataan itu saya jadi menyayanginya. (AR, Mlg, 22 Juli ’08. 04.27).
NB: Di dalam film ini ada kisah tentang anak kecil cantik yang menarik pula.

July 23rd, 2008 at 2:07 am
pinjam Filmnya dong
August 26th, 2008 at 4:41 pm
sepertinya, aku mengenal orang yang mengatakan hal itu kepadamu. ah, engkau memang harus menyayanginya… sungguh. (need some helps?)
August 29th, 2008 at 2:34 pm
ah, iya. kita memang harus menyayangi siapa saja…sungguh. (no)
AR
August 31st, 2008 at 3:57 pm
lho kok temanya jadi sayang-sayangan wakakakakaka