Arogansi: Aku dan Kalian

Posted by any     Category: Idea

Selalu banyak pelajaran di manapun, maka temukanlah”. Ini adalah sebuah “pelajaran” yang saya dapat dari rapat tahunan organisasi kampus yang sampai hari ini saya masih melibatkan diri di dalamnya. Seperti ritual-ritual sebelumnya, rapat tahunan diakhiri dengan pemilihan ketua umum. Pemilihan ketua seperti biasanya pula diawali dengan pernyataan kesediaan dari masing-masing calon. Saat itu ada 4 calon. Semua menyatakan ketidaksediaannya di depan forum. Alasan-alasan yang disampaikan beragam. Satu di antaranya adalah yang membuat saya menemukan pelajaran.

Calon ini adalah yang terkuat. Sejak awal sudah beredar kabar bahwa dia yang akan terpilih menjadi ketua umum. Betul, dia terpilih sebagai calon dengan perolehan suara terbanyak. Tetapi calon ini tidak langsung menyatakan kesediannya. Bahkan alasan yang diutarakan adalah yang paling keras. Alur dialog dengan forum hingga beberapa kali. Dalam pernyataannya si calon meminta forum agar mengerti mengapa dirinya tidak mau menjadi ketua umum. Forum diharapkan tidak arogan memaksanya menjadi ketua umum karena ada prioritas-prioritas lain yang harus dipilih. Beberapa kali si calon meyakinkan bahwa dirinya tidak mau menjadi ketua organisasi.

Dialog forum cukup alot hingga akhirnya muncul sebuah pernyataan yang saya sebut pelajaran. Bahwa si calon sebenarnya telah tidak menyadari arogansi yang menancap pada otaknya sendiri. Si calon telah “menuduh” forum arogan karena memaksanya menjadi ketua umum. Dengan demikian, si calon sebenarnya telah melakukan arogansi tanpa disadari. Dia arogan memaksakan kehendak pribadi di tengah kondisi yang sedang membutuhkannya untuk memimpin.

Kemudian saya seperti tersentak, bahwa dalam kehidupan sehari-hari pun sering terjadi demikian. Dalam pikiran, kita sering menuduh orang lain tidak tahu, tetapi sebetulnya kita lah yang merasa lebih tahu. Dalam pikiran, kita sering menyimpulkan dan mengklaim orang lain hingga tertutup kesadaran akan potensi kesalahan dalam kesimpulan tersebut. Oh…iya, memang kita tidak terbiasa dengan penundaan makna, kita hanya terbiasa pada logosentrisme, penyimpulan, penyederhanaan, dan klaim yang hingga tak tersadari telah melakukan arogansi.

(AR, Mlg. 12 Nov.’08. 11.35)

Tags:

Leave a Reply