Cultural Resistance

Posted by any     Category: Idea

Tulisan ini adalah review kedua dari pelatihan etnografi PUSPeK Averroes pada bulan puasa lalu. Cultural Resistance (CR) pada saat itu disampaikan secara eksklusif oleh kawan Mujtaba Hamdi (Taba). Bagi kita, peserta pelatihan, CR merupakan tema yang masih asing. Asing karena tidak pernah dibaca atau dipikirkan. Ya….begitulah. Terlalu banyak hal-hal asing di sekitar kita karena problem kurang membaca, melupakan apa yang diperintahkan Tuhan pada surat yang diturunkan pertama kali. Marilah kita membaca, kawan. Membaca apapun agar tidak mudah shock karena keasingan banyak hal. Ha ha ha.

Cultural Resistance, dari istilahnya saja sudah bisa ditangkap, yaitu perlawanan kebudayaan. Apa yang ada dalam bayangan ketika membaca istilah tersebut? Dalam bayangan saya setidaknya, yang disebut perlawanan adalah keluar dari ke-umum-an (hal yang umum), mayoritas, atau mainstream. Kurang lebih demikian yang saya tangkap dari pelatihan. Dilihat dari latar belakangnya, CR bertujuan untuk melawan dominasi. Dominasi, secara spesifik yang dimaksud di sini adalah hegemoni, kuasa.

Wait! Apa yang ada dalam pikiran ketika menangkap kata dominasi? Dalam pikiran saya, dominasi adalah pemerintah. Jika ada, buang pikiran itu! Karena dominasi (hegemoni, kuasa), kata mas Taba tidak selalu berada di luar tempat kita berdiri. Dominasi tidak ada hubungannya apakah ia internal dalam lembaga yang kita naungi atau eksternal (pemerintah misalnya). Lembaga internal atau eksternal bisa menjadi sarang hegemoni bagi individu-individu yang ada di dalamnya (Ha ha ha. Maka selalu kritislah!)

CR menjelma dalam dua wadah, bentuk dan isi. Dilihat dari bentuk, misalnya musik, grafiti, interpretasi, dan aktivitas. Dari isinya, misalnya lirik musik yang nyeleneh. Di Indonesia, musik yang dicontohkan oleh mas Taba saat itu adalah lagu-lagu Slank dan Iwan Fals. Jelas sekali mengapa lagu-lagu Slank dan Iwan Fals menjadi contoh CR yang tepat. Dalam konteks dunia adalah lagu-lagu John Lennon. Yang juga sempat dicontohkan pada pelatihan adalah budaya funk.

Sekarang kita tanya, mengapa CR terjadi? Di atas sudah sedikit disinggung alasan CR. Tetapi yang ini lebih mendasar. CR muncul karena kebutuhan terhadap ruang bebas. Ruang bebas bisa dipilah dalam dua bentuk, individual dan material. Ruang bebas individual misalnya kebebasan berpikir, menginterpretasi, dan beraktivitas sesuai dengan kesadaran yang dimiliki. Sedangkan ruang bebas yang material misalnya lirik lagu.


Catatan: penjelasan ini secara garis besar memiliki kesamaan dengan bentuk dan isi CR.

CR tidak terjadi begitu saja. Ada proses dan tingkatannya. Proses CR dalam istilah mas Taba atau referensi yang ia baca disebut Political Counsciousness. Individu berangkat dari keadaan tak sadar, kemudian coba-coba, dan terakhir sadar.

Tidak sadar –> Appropiasi (coba-coba. Seperti halnya coba-coba rasa garam) –> sadar

Lingkup CR : individu –> subculture –> masyarakat

Hasil proses CR : bertahan –> perlawanan –> revolusi

Demikian sekilas tentang CR. Semoga bermanfaat.

(AR, Mlg, 24 Okt.’08. 10.27)

Tags: , ,

Leave a Reply